RENAISSANCE

Kegelisahan, Kegembiraan, dan Harapan

Humanae vitae

pope_paul_iv.jpgBeberapa Pertimbangan Bersumber Pada Humanae vitae

Pada tahun 1968 Paus Paulus VI menerbitkan suatu ensiklik yang bernama “Humanae Vitae”, mengenai seksualitas didalam hidup berkeluarga, yang menimbulkan banyak kegelisahan, dan ensiklik ini merupakan alasan mengapa sekarang saya coba memberi beberapa pertimbangan.
Mula mula begini: kita tahu bahwa Paus tidak dapat sesat kalau beliau mempergunakan kekuasaannya yang paling tinggi sebagai guru agung, dengan memaksakan suatu dogma atau kebenaran iman untuk mutlak dipercayai oleh semua orang katolik. Kekuasaan ini jarang sekali digunakan, kali yang terakhir dalam tahun 1950, waktu paus Pius yg ke XII menerangkan bahwa Bunda Maria dengan jiwa dan badan diangkat ke surga.
Tetapi bukan Paus saja yang mempunyai sifat “tak dapat sesat”. Juga Konsili, jadi, para uskup sedunia yang berkumpul, juga mempunyai sifat itu. Kalau mereka dengan suara umum menerangkan suatu kebenaran keagamaan untuk dipercayai, juga umat katolik seluruh dunia wajib menerimanya dan percayainya.

Pada tahun 1959 pil antikonsepsi diketemukan, dan mulai diedarkan dan dipakai kalangan banyak. Di dalam surat2 kabar, waktu itu, “pil” itu sangat diperdebatkan: boleh atau tidak. Juga sang paus (waktu itu masih paus Johannes yang ke XXIII) merasa diri wajib memberi tanggapan. Tetapi anehnya: walaupun beliau sudah memanggil para uskup sedunia utk berkumpul, mereka tidak diizinkan membicarakan masalah ini dalam sidang konsili. Paus mau membereskannya sendiri. Masalah2 mengenai seks seakan akan tidak pantas dibicarakan didalam sidang Konsili. Tetapi beliau tidak merasai diri cukup mampu memutuskan sendiri: boleh atau tidak, dan beliau menyusun suatu panitia yang terdiri dari lima orang teolog di bidang moral. Dua diantara mereka konservatip, dua progresip, dan satu agak moderat (berada ditengah2). Sesudah mempelajari bahan itu selama dua tahun, mereka tidak bisa mencapai kata sepakat (yang progressip mau mengizinkannya, dua yg lain anti-pil , yg ketiga kurang tahu), dan mereka mengembalikan tugas mereka kepada sang paus: tidak berhasil memberi nasihat, karena mereka tidak sepakat. Pada tahun 1963 sang paus meninggal, dan masalah itu mulai ditangani oleh penggantinya, ialah: paus Paulus yg ke VI. Beliau ikut jalan pikiran pendahulunya: seks jangan dibicarakan di Konsili. Beliau menyusun panita yang jauh lebih luas, yang terdiri dari 52 anggota. Tetapi pembagian mereka seperti panitia yg pertama: ada yg progesip, yg konservatip, dan moderat. Bertahun-tahun mereka mempelajari bahan itu, dan akhirnya ada kata yang hampir kata sepakat: 48 dari mereka mengizinkan, tetapi empat mutlak menolak penggunaan pil antikonsepsi. Karena mereka tidak satu pendapatnya, mereka memutuskan untuk memberi dua nasihat: yang satu dari majoritas, yang lain dari minoritas yang kecil tadi itu. Akhirnya sang paus menulis ensiklik Humanae vitae, dan didalam ensiklik beliau membuang nasihat dari majoritas, dan mengikuti nasihat dari minoritas. Dan alasan mengapa “pil” tidak diizinkan ialah: tidak menurut kodrat manusia. Kalau dua insan mengadakan hubungan seksuil, itu perlu dibuat sedemikian, sehingga bisa terjadi kehamilan. Terus “munurut kodrat manusia” dipakai sebagai alasan mengapa tidak boleh makai “pil”. Jadi, anehnya, manusia selalu dianggap sebagai kesatuan jiwa dan badan, sebagai unit psychologisch dan fisiologis, tetapi dengan memberi tekanan atas jiwanya, atau mentalnya, otaknya, psychenya. Dalam moral umumnya diketahui bahwa: yang menentukan baik atau buruk perbuatan kita, ialah: maksud baiknya atau maksud jeleknya, sehingga kemanusiaannya menjadi patokan baik ataupun buruknya perbuatannya. Memukul orang tak boleh. Tetapi kalau orang itu mau membunuh saya, saya boleh membela diri, dan boleh memukul, jika perlu. Sekali lagi: anehnya, bahwa dalam perbuatan apa saja situasi atau maksud baik menentukan moralitas perbutan kita, tetapi kalau seks terlibat, tiba2 manusia dianggap hanya kesatuan badaniah saja, juga persis dalam mana dia sama dengan binatang. Sebab katanya “harus menurut kodrat manusia”. Dan “kodrat”dalam hal ini sebentar dikembalikan kepada “badan”: saja. Padahal keuletan munusia justru bahwa dia terutama unit psychologisch en berjawa-badan, jadi, bukan badan saja.

Menurut banyak sekali filosof dan teolog sang paus membuat kesalahan filosofis, hanya karena beliau takut sama seks. Mungkin sang paus takut bahaya: kalau ini diizinkan, apa saja dapat terjadi, dan kalau muda mudi dengan bebas pakai alat antikonsepsi, mereka hanya mengejar nikmat badaniah saja. Kita harus mengakui bahwa bahaya itu bukan bahaya saja, tetapi kenyataan. Sebab di dunia barat hampir tidak ada bujang atau gadis yang berumur 16 tahun, yang belum mempunyai pengalaman seks dengan lawan jenisnya. Sungguh menyedihkan, tetapi begitulah. Saya sendiri sama sekali tidak setuju, tetapi saya hidup dalam dunia demikian. Mungkin sang Paus berfikir: kalau saya melarang “pil”secara umum, penyalahgunaannya tidak akan terjadi. Tetapi pendapat ini ternyata jauh meleset, pasti sejauh menyangkut dunia barat. Tambah ini bahwa pada umumnya di dikalangan para rohaniwan, atau paling sedikit para pembesar, mereka di Roma sangat takut soal seksuil. Memang hawa nafsu seksuil kuat sekali, dan sejak dulu perkara seksuil membuat banyak imam dan religieus meninggalkan panggilannya, tetapi ini tidak berarti bahwa “seks”merupakan hal yang salah. Tergantung bagaimana ini digunakannya. Kalau seks dipraktekkan diantara suami dan isteri, dan dijalankan dengan cintakasih, sebagai ungkapan cinta, ini baik sekali dan berjasa untuk surga. Menikmati perkara seks juga dikehendaki Tuhan. Tidak ada salahnya apa apa. Tetapi ada bahaya bahwa seks mulai didewakan. Kalau tidak senang dengan suami atau dengan isteri, lari ke orang lain. Memang perlu banyak pengorbanan. Orang terus harus menahan diri, biarpun sudah nikah. Tetapi: korban membawa berkat, karena membuat lebih utuh hidup berkeluarga. Bukan seks yg paling penting, tapi cinta.

Tetapi mengenai “pil” itu kata yang terkahir belum diucapkan. Begitu “Humanae Vitae”diedarkan, terus para uskup sedunia gelisah, dan hampir semua mengatakan: “Yah, nasihat Paus sangat baik, dan memang sebaiknya pasangan suami isteri hidup dengan mempergunakan metode kalender kalau mau membatasi jumlah anak, dan memprektekkan “birth control”, tetapi dalam instansi yg terakhir hati nurani setiap insan yang menentukan baik atau buruknya penggunaannya”. Juga Kardinal Darmoyuwono berpendapat demikian. Oleh karena itu dia menjadi persona non grata di Roma, sehingga beliau meletakkan jabatannya sebagai uskup dan kardinal. Kemudian Paus Johannes Paulus yang ke II menjadi Paus. Menurut ceritera orang, beliaulah yang menyusun teks dari “Humanae Vitae”, tetapi itu belum terbukti. Yang pasti ialah, bahwa beliau seratus prosen setuju dengan isi ensiklik itu, dan semua uskup yang diangkat beliau, harus menandatangani surat pernyataan bahwa mereka setuju dng “Humanae Vitae”. Sehingga sampai sekarang praktis semua uskup membela ensiklik itu.

Kalau kita mempelajari isi ensiklik “Humanae Vitae”, sebenarnya ada banyak ide dan pikiran yang bagus sekali. Apa yang dikatakan tentang cintakasih diantara suami-isteri, dan bagaimana mengembangkannya, indah sekali, dan cinta itu langsung dihubungkan dengan cinta dari Tuhan terhadap manusia dan sebaliknya. Saya sendiri sungguh yakin, bahwa metode alamiah untuk membatasi kelahiran, adalah metode yang paling baik, biarpun mengandaikan banyak pengorbanan dari ke dua belah pihak. Tetapi saya tahu juga bahwa ada banyak wanita yang mempunyai siklus menstruasi yang tidak teratur, sehingga praktis tidak mungkin menggunakan metode alamiah. Menuntut supaya suami-isteri harus hidup praktis sebagai selibater, tentu terlalu berat. Sehingga perlu cari jalan lain, ump. “pil” atau lain sejenis. Setiap pembatasan kelahiran membawa pengorbanan dari pihak suami atau isteri, atau dari ke dua duanya, dan setiap pasang harus mencari metode yang paling tidak merugikan cinta kasih diantara mereka berdua. Seks hanya alat cinta, bukan cinta sendiri!

Paus Johannes Paulus yg ke II pernah menulis ensiklik mengenai hati nurani, dan beliau menerangkan bahwa hati nurani itulah, yang selalu menjadi hakim yg terakhir perbuatan kita. Dengan kata lain: biar salah, tetapi dianggap baik, tetap jadi baik, dan sebaliknya. Dan yang bagi saya menjadi alasan juga untuk berani mengemukakan pendapat ini: belum pernah Paus berani mewajibkan ajaran mengenai “pil” sebagai ajaran yang mutlak perlu diperyayai. Tambahan pula, bahwa dalam sejarah sang paus sering membuat kekeliruan.

Pada tahun 1587 diedarkan surat kepada uskup sedunia, bahwa sampai kehamilan dalam bulan yang ke tiga, bayi masih boleh digugurkan, sebab dianggap sang bayi belum mempunyai jiwa, dan belum menjadi manusia. Kira kira tigapuluh tahun sesudahnya, peraturan itu dibatalkan, dan dikatakan bahwa orang tak pernah boleh melakukan aborsi. Saya seratus prosen setuju. Kita tak pernah boleh membunuh orang. Dan disamping itu: perbuatan demikian meninggalkan luka bathin yang sangat dalam, dalam jiwa ibu yang pernah melakukannya. Dia selalu masih ingat anaknya yang tidak jadi dilahirkannya, dan dia tetap merasai diri salah besar.

Paus Benedictus ini menulis ensiklik yang indah sekali mengenai cintakasih. Sungguh perlu sekali dibaca dan direnungkan. Para paus pendahalunya, memberi keterangan yang jelas mengenai ajaran sosial gereja. Kalau ajaran ini seandainya dipraktekkan, dunia menjadi semacam surga. Sayang bahasa yg dipakai kadang-kadang agak tinggi dan sulit, tetapi isinya sungguh bagus dan benar.

Semoga tulisan ini, yg sudah lama saya rencanakan, menambah kerukunan hidup berkeluarga.
Penulis: A. J. Bontje, SCY

Januari 16, 2008 - Posted by | Agama, Pencerahan

2 Komentar »

  1. pak,, kenapa sich kok tiap ada jadwal pelajaran agama di kelas saya, bapak sering gak dateng???
    kan pelajarannya jadi gak seru..
    gak ada yang bercanda pak…

    Komentar oleh dennise | April 9, 2008 | Balas

  2. pak, kenapa sich kok tiap ada jadwal pelajaran agama di kelas saya, bapak sering gak dateng?
    kan pelajarannya jadi gak seru.
    gak ada yang bercanda pak.

    Komentar oleh dennise | April 9, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: