RENAISSANCE

Kegelisahan, Kegembiraan, dan Harapan

PEMIMPIN VERSUS BOSS

Seorang teman lama mengirimi saya email, meminta saya mengirimkan sejumlah bahan atau paling tidak sedikit bahan inspirasi buat dirinya yang mau memberikan LDK kepada sekelompok mahasiswa. Berbagai buku, handout, materi-materi bagus saya tinggalkan di Malang 5 tahun lalu. Tertitipkan di rumah salah seorang karyawan perpustakaan kampus. Menulis baru lagi? Di tengah situasi ‘distrust’ terhadap para pemimpin saya, rasanya terlampau sulit menulis bahan baru mengenai kepemimpinan. Akan terjadi perlawanan hati nurani. Akhirnya, terinspirasi dari sebuah tulisan di Kompas, saya hanya mengirimkan sebuah materi pendek berikut:

Kerap kali saya dipanggil Boss oleh orang lain, walau saya bukan Boss. Siapa saja yang memanggil saya Boss? Tukang ojek langganan, Tukang ojek yang biasa mangkal dekat rumah. Kenek Metromini 91 jurusan Gorogol Batusari, Tukang nasi, Tukang buah, Pengamen jawa bersitar yang seminggu sekali hinggap di rumah saya, dan beberapa orang sejenis itu.

Saya sendiri tidak tahu darimana asal panggilan Boss itu. Yang jelas, mungkin Anda juga mengalaminya. Dan bagi mereka yang kita pakai jasanya tersebut, kita memang Boss. Kita adalah pemilik yang tinggal memberi perintah, dan mereka menjalankan seperti yang kita mau. Mereka bergantung pada belas kasihan kita. Walaupun hanya menjadi Boss sementara saja bagi mereka.

Boss menjadi identik dengan pemilik. Boss menjadi sinonim dari majikan. Dan seorang majikan berkuasa penuh atas orang-orang dibawahnya. Bagi pembantu di rumah, kita adalah Boss, mereka seakan-akan menjadi milik kita, yang harus rela diperintah apa saja, jika tidak menuruti perintah, maka akan ada konsekuesi lanjutan dari ‘pembangkangan’ tersebut. Dan inilah situasi real di sekitar kita.

Ada banyak orang yang memiliki kekuasaan atas orang lain tidak lagi menganggap dirinya sebagai pemimpin. Mereka lebih suka menjadi seorang Boss, seorang majikan. Mulai dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Ada pergeseran nilai ‘pemimpin adalah seorang pelayan’! Tidak peduli kata orang banyak, aku lakukan sesuai dengan apa yang kuingini, orang lain harus menerima dengan berbagai konsekuensinya, jika tidak, bersiaplah terhadap sanksi.

Ketika sebuah kekuasaan dihayati sebagai Boss, maka akan terbuka pintu masuk yang lebar terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Tidak ada lagi yang namanya kebijakan publik. Sebuah kebijakan menjadi bijak ketika diambil setelah memandang dari berbagai sudut pandang, ekonomi, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kesetiakawanan, kepedulian, dan mendasar adalah peri kemanusiaan. Ketika sebuah kebijakan diambil namun tidak dengan dasar itu semua, maka hasilnya justru ketidakbijakan. Di sebut publik ketika sebuah keputusan diambil untuk pelayanan kepada orang banyak, dan bukan kepentingan kantong sendiri, ideologi kelompok, dan kelanggengan kekuasaan. Maka ketika ketika itu semua dilanggar, yang ada hanyalah ketidakbijakan pribadi atau kelompok, tidak lagi menjadi kebijakan publik.

Pada masa ini yang diperlukan adalah pemimpin, bukan Boss dengan mentalitas majikan yang cenderung menindas dan merugikan orang lain. Yang kebijakannya tidak lagi menjadi bijak. Yang kebijakannya tidak lagi demi publik yang dilayani.

Jika Anda adalah pemegang kekuasaan, apa yang akan Anda pilih? Menjadi seorang pemimpin dengan berbagai tuntutan pengorbanan, atau menjadi seorang Boss yang bergelimang dan sarat dengan berbagai keenakan…?

Ah lihat, jika otak ‘overloaded’ menulis saja menjadi dangkal sekali…

April 12, 2008 - Posted by | Pencerahan

4 Komentar »

  1. Permenungan yang dalam sekali Pak Kris..😀 Menjadi pemimpin apapun, seharusnya memiliki dan berani mempertanggungjawabkan jabatan ‘pemimpin’, orang-rang yang dipimpinnya, dan terutama Sang Pencipta. Jangan sampai kesalahan dan dosa menjadi hal yang biasa bagi ‘Pemimpin kita’.

    Komentar oleh fxekobudi | April 16, 2008 | Balas

  2. Ah, sayangnya godaan kalau menjadi pemimpin itu ternyata besar sekali ya pak🙂 Apalagi kalau pemimpinnya memang senang dan bahkan minta digodai🙂

    Komentar oleh kristiono | April 16, 2008 | Balas

  3. Good Leader is Good Follower.
    Boss berbeda sekali dengan pemimpin
    Dan atasan berbeda dan pimpinan, atasan melakukannya dengan perintah, sedangkan pimpinan menunjukkan arah…….

    Komentar oleh poedjosakti | April 21, 2008 | Balas

  4. Wajar Pak, semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya.
    Tapi niat iklash aja Pak, niat membantu wong cilik

    Komentar oleh maspoedjo | Desember 15, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: