RENAISSANCE

Kegelisahan, Kegembiraan, dan Harapan

KEKERASAN OLEH POLISI DALAM DEMONSTRASI TALI

KEKERASAN OLEH POLISI DALAM DEMONSTRASI TALI

24 Juni 2008

Pagi ini aku mampir ke kantor lamaku. Hanya sekadar menyerahkan sesuatu yang tertingal. Berangkat sudah jam delapan pagi. Melewati Gedung MPR di senayan yang mulai ramai dengan pengunjuk rasa. Harus pulang bergegas pikirku, supaya tidak terjebak macet.

Tiba di tikungan Slipi Jaya, kulihat spanduk besar berisi tulisan selamat atas hari Bhayangkara beserta tulisan “POLISI SAHABAT RAKYAT’. Bagus pikirku…

Tiba di rumah dengan sedikit pusing. Sore hari nonton berita sore si TransTV sambil menyulut sebatang rokok ditemani segelas kopi. Ada berita tentang demonstrasi di Gedung MPR. Ternyata unjuk rasa berujung rusuh. Massa bahkan sempat merusak sebuah mobil polisi. Mangapa? Pikirku. Kan polisi sahabat rakyat. Lagi pula mereka hanya melakukan tugas. Berbagai argumentasi pembelaan terhadap para polisi berhinggapan di kepalaku.

Semenit kemudian semua pembelaan itu lenyap seketika. Saat pembaca berita juga memberitakan bahwa polisi juga ternyata melakukan tindakan kekerasan. Dalam layar televisi terlihat jelas, dalam situasi yang tidak begitu ramai sebuah mobil polisi melaju kencang menabrak seorang pengunjuk rasa berseragam mahasiswa hingga terpental ke tepi jalan. Situasi yang terlihat di televisi bukan situasi yang memerlukan tindakan pembelaan diri dari polisi. Namun dengan sengaja, mobil polisi tersebut menabrak langsung mahasiswa tersebut dan kemudian langsung melaju pergi dengan kencang.

Inikah gambaran polisi sebagai sahabat rakyat? Salahkah jika dengan banyaknya fakta seperti ini, membuat rakyat justru membenci polisi?

Tindakan penabrakan dengan sengaja oleh oknum polisi seperti ini harus ditindak tegas. Ini dapat digolongkan sebagai usaha pembunuhan. Mobil polisi yang menabrak jelas dan terekam oleh media, maka oknum polisi yang mengemudikan mobil itu dapat dilacak oleh pihak kepolisian. Jika tindakan-tindakan kekerasan oleh polisi dibiarkan saja, maka kepercayaan rakyat kepada polisi yang memang sudah tipis akan menjadi semakin menghilang.

Mari, jangan kita benci polisi. Tapi polisi, tunjukkan dulu, bahwa kalian memang bisa dipercaya dan bersikap sebagai sahabat rakyat.

Bapak-bapak polisi, ingat bahwa Anda digaji dengan uang hasil dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat dengan keringat mereka.

Juni 24, 2008 - Posted by | Pencerahan

4 Komentar »

  1. dasar makhluk gajian rendahan!!!
    menyesal saya bayar pajak !!!

    Komentar oleh polisi idiot | Juni 24, 2008 | Balas

  2. Bentrok antara mahasiswa dengan aparat, dan demo yang mengganggu masyarakat.Membuat sebaguan masyarkat menyalahkan mahasiswa. Di anggap biang kekacauan.

    Pertanyaannya adalah kenapa demonstrasi model seperti itu terjadi?

    Menurutku karena menghadapi rezim yang sama dengan yang dulu,
    suka membohongi rakyat
    yang buta mata dan hatinya
    yang sampai sekarang masih bobrok karena korupsinya.

    Demonstrasi dengan tertib justru menjadi olok-olok oleh pemerintah, dibilang “paling cuma begitu saja” kata wapres.

    Sementara kita juga masih melihat setiap hari betapa bobroknya negeri ini karena para pemimpinnya sudah tidak mau lagi menggunakan hati nurani.

    Korupsi masih merajalela, bahkan kejaksaan dan pengadilan juga penuh dengan mafia. Semnatar anggota DPR juga hanya mencari pamor dan popularitas, selain kekayaan.

    Sementara kita tahu pemerintah mengelola dana APBN (Duit rakyat) hampir 1000 (seribu) Trilyun (T) setiap tahunnya. Dana yang sebenarnya sangat besar kalau mampu mengelolan secara efektif dan efisien.

    Namun, masih terdengar dan terlihat dengan jelas bagaimana proyek-proyek pemerintah ditenderkan dengan penuh akal-akalan dan kolusi dengan mitra pengusahanya. Sehingga jalan, jembatan, gedung-gedung sekolah dan lain sebagainya dibuat dengan kualitas yang buruk, karena proyeknya yang terlalu banyak dikorupsi.

    Berapa kali ada demo anti korupsi, nyatanya diabaikan begitu saja. Karena demonya dianggap kecil.
    Butuh orang yang benar=benar berani berkorban untuk terus menyuarakan negeri ini agar menjadi lebih baik. Dan mahasiswa adalah bagian dari kelompok yang memang masih berani melakukannya.
    Mantan aktifis, barangkali sudah mulaiu banyak pertimbangan dan menghitung untung rugi, sehingga tidak memiliki keberanian seperti dulu lagi. Untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih baik.

    Problemnya adalah suara mahasiswa benar-benar tidak di dengar kalau demnstrasinya dengan cara yang tertib (terkesan disepelekan oleh pemerintah). Sehingga muncul antipati terhadap pemerintah.
    Namun sebenarnya hal ini masih lebih baik dari pada yang muncul justru kemarahan rakyat yang lebih luas, karena bisa menjadi revolusi sosial.

    Revolusi sosial yang lahir karena antipatinya rakyat terhadap pemerintah, karena kemiskinan dll, justru akan penuh anarkisme dan kekacauan. Dan biayanya justru lebih mahal.
    Semoga bangsa ini bisa menjadi lebih baik, sehingga tanpa revolusi namun tetap bisa memperbaiki dirinya untuk menjadi bangsa yang besar.

    Komentar oleh mmfaozi | Juni 24, 2008 | Balas

  3. polisi kaya gitu itu dimusnahkan aja, pengecut

    Komentar oleh embi | Juni 24, 2008 | Balas

  4. @polisi idiot: Harusnya pajak kita juga dipakai untuk pendidikan akhlak polisi ya…

    @mmfaozi: Seperti di beberapa spanduk yang sering saya baca: “Sekarang Zaman Edan, Semua Serba Mahal, Yang Murah Cuma Janji Pejabat dan Calon Pejabat.” Menyedihkan… Jika demonstrasi dilakukan secara sporadis dan tidak serempak pasti tidak akan berhasil. Kita harus pakai motto yang sama. Bersama Kita Bisa. Siapakah yang mau dan bisa sehingga semua dilakukan serentak dan terpusat?

    @embi : Mental bawahan mencerminkan mental pemimpinnya…😦

    Komentar oleh kristiono | Juni 26, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: