RENAISSANCE

Kegelisahan, Kegembiraan, dan Harapan

Sang Guru & Artis Sinetron

Beberapa tahun belakangan ini media televisi menjamur. Banyaknya stasiun televisi membuka peluang bagi banyak artis sinetron dan penyanyi baru.
Kebanyakan dari mereka luar biasa ganteng dan luar biasa cantik.

Berbagai penghargaan pun muncul untuk ‘acting’ mereka yang luar biasa di layar kaca kita. Anak-anak dan remaja kita pun (bahkan ibu ibu dan bapak bapak!) menghabiskan waktu berjam jam sehari di depan layar kaca untuk melihat ‘acting’ mereka di layar kaca.

Profesi ini pun menjadi impian bagi anak anak kita.

Ketika saya mengajar Pendidikan Agama Katolik di sebuah sekolah di Jakarta Barat, betapa bangganya saya, ketika salah satu anak ditanya, ingin menjadi apa mereka kelak jika dewasa? Ia menjawab, ingin menjadi guru. Bukan hanya guru, tapi ingin menjadi guru agama seperti bapak.

Kadang murid murid tidak menyadari bahwa guru mereka sebenarnya jauh lebih pandai ber’acting’ dari pada artis artis sinetron yang sering mereka lihat di layar kaca.

Tak peduli apapun yang sedang terjadi di balik kehidupan mereka sebagai guru, guru tetap harus dituntut tampil prima dan menarik di depan murid muridnya. Mungkin mereka tidak seganteng atau secantik artis sinetron pujaan mereka, tapi ‘acting’nya? Luar biasa!

Ada guru yang terhimpit beban ekonomi berat, tapi tetap bisa tampil penuh senyum dan memikat di depan murid muridnya. Ada guru yang terbelit masalah pribadinya sendiri, tetapi tetap menawan di depan kelas tanpa murid muridnya harus tahu bahwa ia sedang dilanda masalah. Ada guru yang sedang dirundung duka, tapi senyumnya tetap menghadirkan ketenangan bagi murid muridnya. Ada guru yang sedang marah, tetapi tetap menebar pesona senyuman, demi perkembangan murid muridnya. Ada guru yang tidak sedang marah, tapi tetap berwajah keras, agar murid muridnya tahu bahwa yang dilakukannya salah.

Acting. Sebenarnya salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru yang baik, agar ia tetap bisa menjadi inspirasi bagi murid muridnya. Agar murid muridnya menjadi semakin tahu dan semakin ingin tahu..

Sayangnya hanya ada sedikit penghargaan bagi profesi guru ini. Guru sering kali menjadi profesi “kepepet” yang terpaksa dijalani. Bahkan ada kenalan yang mengatakan, kenapa jadi guru, sudah tahu orang tidak bisa menjadi kaya dengan menjadi guru. Yang ada malahan menjadi sasaran protes dari para murid dan orang tuanya.

Mari kita membayangkan akan menjadi apa negara kita kelak, jika orang orang yang memiliki kapasitas guru justru tidak mau menjadi guru. Dan orang orang yang ‘kepepet’ yang tidak memiliki kapasitas sebagai guru, justru kemudian menjadi guru.
Siapa yang akan mendidik anak anak kita? Akan menjadi apa dan bagaimana nasib anak anak kita kelak?

Ah, seandainya guru menjadi profesi yang dihargai seperti profesi artis sinetron. Pasti semua akan berlomba menjadi guru, dan bukan hanya menjadi guru, melainkan menjadi guru yang baik dan profesional. Pasti, di masa depan nanti, manusia manusia terbaik yang akan menjadi guru, dan anak anak kita akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita..

Padahal ‘acting’ guru guru kita kadang jauh lebih baik daripada ‘acting’ artis artis sinetron kita..

Agustus 8, 2013 - Posted by | Iseng, Pencerahan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: